seputarbola.org – Bulan suci Ramadan kembali menyapa, dan bintang muda Barcelona, Lamine Yamal, bersiap memadukan kewajiban spiritualnya dengan tuntutan sepak bola level elite.
Untuk memastikan performa sang pemain tetap maksimal selama berpuasa, tim medis Barcelona telah menyiapkan rencana nutrisi dan diet khusus.
Tahun ini, Ramadan yang berlangsung dari 18 Februari hingga pekan terakhir Maret menjadi momen kedua bagi Yamal menjalani ibadah puasa bersama tim utama. Hal ini jelas menjadi faktor krusial yang menuntut penyesuaian fisik secara saksama.
Pengalaman Klub dan Strategi Iftar
Bagi Barcelona, mengelola kondisi fisik pemain muslim di bulan Ramadan bukanlah tantangan baru. Laporan dari harian Spanyol, AS, menyebutkan bahwa staf medis klub sudah terbiasa merancang program serupa untuk meminimalisasi efek puasa pada siang hari.
Di masa lalu, Barcelona sukses menerapkan panduan nutrisi khusus untuk nama-nama seperti Ousmane Dembele, Franck Kessie, hingga Ansu Fati. Kini, pendekatan terukur yang sama diaplikasikan secara penuh untuk Yamal.
Fokus utama dari rencana medis ini terletak pada manajemen jamuan berbuka puasa (Iftar). Tim dokter menstrukturisasi diet secara hati-hati agar sang pemain mendapat nutrisi optimal, sekaligus secara ketat menghindari porsi makan berlebihan.
Asupan kalori yang terlalu berat di larut malam sangat dihindari karena berisiko mengganggu ritme istirahat dan berdampak buruk pada performa atletik.
Selain makanan, hidrasi menjadi poin yang tak kalah krusial. Pemain sayap kelahiran Rocafonda ini diwajibkan memastikan asupan cairan tubuhnya terpenuhi dengan baik pada jam-jam sebelum pertandingan.
Rutinitas Baru Lamine Yamal
Adaptasi jadwal menjadi kunci bagi Yamal untuk mempertahankan keseimbangan tersebut. Dalam sebuah wawancara pada Maret tahun lalu, ia membagikan secara langsung bagaimana rutinitas hariannya berubah drastis demi menyelaraskan jadwal latihan dan ibadah.
“Hari ini saya bangun jam empat pagi dan sarapan dalam porsi besar. Setelah itu, saya bisa bangun lebih lambat dari yang lain karena saya melewatkan jadwal sarapan tim,” ungkap Yamal.
“Setelah itu saya pergi ke tempat latihan dan kemudian kembali ke kamar untuk melanjutkan doa-doa saya. Dan begitu seterusnya sampai tiba waktunya saya bisa berbuka puasa.”
Ia juga menekankan pentingnya peran cairan khusus dalam menunjang fisiknya selama menahan dahaga.
“Elektrolit sangat penting untuk tetap terhidrasi sepanjang sisa hari,” tambahnya.
Menanti Pembuktian Kontra Levante
Efektivitas program diet khusus ini akan menemui ujian perdananya pada hari Minggu, saat Barcelona dijadwalkan bertanding melawan Levante. Publik tentu menanti bagaimana efek puasa memengaruhi daya ledak pemain bernomor punggung 10 Barcelona tersebut di atas lapangan hijau.
Meski demikian, kekhawatiran terkait penurunan performa tampaknya tidak terlalu dirasakan di internal klub. Musim lalu, Yamal terbukti sukses melewati tuntutan bulan suci berdampingan dengan komitmen profesionalnya tanpa kendala berarti, sebuah standar yang diyakini akan kembali ia pertahankan tahun ini.
Sumber : Bolaa.net
baca juga:
Dewa United Jadi Satu-satunya Harapan Indonesia di Asia: 3 Langkah Menuju Juara AFC Challenge League
Sukses dengan Cunha, Manchester United Berminat Boyong Berlian Wolverhampton Ini?
